Step 1: Be Sure

If you have accepted Christ as your Lord and Savior, you can be sure you are a Christian. You are not a Christian because you go to church, or because you do good things

Step 2: The Holy Spirit

God has given the gift of the Holy Spirit to those who accept Jesus Christ as Savior and Lord. When Jesus left this earth, He said that God His Father would send the Holy Spirit to be in His disciples. If you are a Christian, you can ask God to fill you with His Holy Spirit each and every day.

Step 3: Bible

God has not left us without help in leading the Christian life. He inspired holy writers over the centuries to write the Bible - 66 books organized into the New Testament and Old Testament. You can learn about Jesus; learn how to live a Christian life; and study the lives of godly men and women of old by reading the Bible. God has given you "His instruction book" to help us live a victorious Christian life.

Step 4: Church

You are not alone in living the Christian life. All the true Christians in the world are now your spiritual brothers and sisters. We encourage you to seek out other Christians near you who can help you grow in your Christian life. You can learn about God; spend time with other believers; worship God; and help and serve others in your local church.

Step 5: Prayer

God has given us the privilege of talking with Him. Talking with God is called prayer. We can pray to God at any time; Christ said He would be with us always. God as our heavenly Father loves to spend time with us.

Step 6: Share Your Faith

When Jesus left His disciples, He told them that they would be His witnesses - that they were to tell others about Him. As Christians, we have the privilege of telling other people the good news that Christ died for them.

Minggu, 29 Mei 2005

Gambar Kehendal Allah ke 1

Warisan Anak yaitu Takhta Sorgawi:
Prioritas Pertama Dalam Kehendak Allah

* Prioritas Allah yang pertama adalah warisan Anak yaitu takhta sorgawi

Prioritas pertama dalam kehendak Allah adalah warisan Anak yaitu takhta sorgawi (Philippians 2:5-11). Meskipun Gambar kehendak Allah sendiri tidak bisa dibahas tanpa menyebut Anak, prioritas pertama memusatkan pandangan lebih dekat kepada Anak, karena itu adalah mengenai terangkatnya Dia ke sorga. Keahliwarisan-Nya telah direncanakan sebelum penciptaan manusia, para malaikat dan sorga.

Prioritas pertama memusatkan pandangan kepada hubungan antara Bapa dan Anak yang bisa disimpulkan dengan “Kasih & Ketaatan.” Secara ruang hal ini berhubungan dengan langit ketiga (sorga para malaikat, ilah-ilah, dunia rohani). Dalam kasih-Nya kepada Anak, Bapa menunjuk Dia sebagai ahli waris dan menciptakan sorga sebagai warisan-Nya (Hebrews 1:2). Dalam pelaksanaannya, anak memilih untuk tidak menyetarakan diri dengan Bapa dan merendahkan diri-Nya dengan kerendahan hati terhadap Dia (Philippians 2:5-8). Dengan menunjuk kepada Anak ketika Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Matthew 3:17; Mark 1:11; Luke 3:22) dan di gunung di mana Ia berubah rupa (Matthew 17:5; Mark 9:7; Luke 9:35), dan berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Bapa menyatakan kepada dunia akan kasih-Nya untuk Anak, Firman datang dalam daging. Dalam suratnya, Paulus menegaskan kasih ini dengan menyebut sorga yang diberikan kepada Anak “Kerajaan Anak-Nya yang kekasih” (Colossians 1:13). Dalam menanggapi kasih Allah yang luar biasa, Anak menunjukkan kerendahan hati dengan merendahkan diri tanpa batasan. Meskipun pada hakekatnya adalah Allah, Ia tidak menyetarakan diri dengan Bapa, tetapi memilih untuk mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba dan menyatakan diri dalam rupa seorang manusia (Philippians 2:6-8). Dengan kata lain adalah sebagai makhluk yang dapat mengalami kematian Ia merendahkan diri di hadapan Bapa, sumber dari hidup kekal. Allah menerima dengan penuh sukacita kerelaan hati Anak untuk merendahkan diri dengan kerendahan diri dan mengecap maut, dan memberikan Dia perintah kebangkitan sebagai tanda penghargaaan atas persetujuan-Nya (John 10:17-18). Maka Bapa dan Anak ada dalam hubungan kasih dan ketaatan. Tanpa kasih dan/atau ketaatan, tidak mungkin ada hubungan di antara mereka.

Bahkan sebelum hal ini menjadi korban kematian untuk keselamatan manusia, kematian Yesus telah direncanakan sebagai perintah Bapa. Hal ini telah direncanakan dalam proses untuk Anak mewarisi sorga bahkan sebelum penciptaan manusia atau dunia. Oleh sebab itu, kematian Yesus harus dimengerti dalam konteks hubungan Bapa-Anak. Yesus harus mati dan menuju kebangkitan sesuai dengan kehendak Allah. Kematiannya itu berasal dari penyerahan diri-Nya kepada Bapa dan proses untuk masuknya Dia ke sorga melalui kebangkitan, di mana sorga telah dipersiapkan untuk Dia oleh Bapa. Pernyataan Yesus, “Akulah kebangkitan” (John 11:25) tidak dapat secara mudah diartikan bahwa Ia harus mati dan dibangkitkan. Pernyataan itu lebih mengantarkan arti bahwa Yesus sebagai pemilik asli dari hidup kekal hanya mengalami kematian secara singkat. “Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali” (John 10:17) , juga memberikan konfirmasi bahwa tujuan akhir-Nya bukan sekedar kebangkitan dari kubur, tetapi kehidupan yang lebih besar lagi, yaitu penobatan takhta di sorga. Dari pada mulanya, Yesus sudah ditetapkan untuk mati, dibangkitkan dan duduk dalam takhta kemuliaan.

Jadi kematian Yesus bukanlah tujuan akhir. Untuk kebangkitanlah Anak Manusia telah datang. Dua ribu tahun yang lalu, kehendak Allah telah digenapi oleh kematian Yesus, Anak-Nya, kebangkitan dan terangkatnya Yesus ke sorga (Matthew 26:64; Mark 16:19; Hebrews 1:3; Hebrews 8:1, Revelation 3:21) yang mana sekarang ini sedang berdoa bagi orang-orang kudus (Romans 8:34); 1 John 2:1) dan mempersiapkan tempat tinggal bagi mereka di sorga.

Ayat terkait:
Philippians 2:6-8; Mark 16:19

Pengantar Gambar Kehendak Allah

Warisan Anak yaitu takhta sorgawi
Pemusnahan Iblis
Keselamatan manusia

ALLAH

* Allah adalah satu, unik dan Tritunggal yaitu: Bapa, Anak dan Roh Kudus

Allah adalah Satu, unik dan Tritunggal. Terdiri dari Bapa, Anak dan Roh Kudus. Allah adalah “Esensi Ilahi” yang berada dengan sendirinya dari pada mulanya sampai dengan kekekalan. Anak adalah “Keberadaan Ilahi” yang dahulu berada bersama Allah sebagai Firman sebelum Ia menyatakan dirinya ke dunia sebagai gambar-Nya. Roh Kudus adalah “Roh Ilahi” yang berada bersama Bapa sebagai sumber dari segala roh.

Ketiga kepribadian dari Allah Tritunggal masing-masing berdiri sendiri meskipun mereka satu dalam kehendak. Setiap pribadi Allah Tritunggal memiliki keinginan dan kehendaknya masing-masing. Meskipun demikian, Anak dan Roh Kudus tidak melampaui kehendak Bapa, tetapi mereka satu sebagaimana mereka selalu bekerja sesuai dengan kehendak Bapa. Allah menetapkan kehendak-Nya, Anak menggenapinya dan Roh Kudus menjamin dan menyaksikannya untuk selamanya.

Allah sebagai esensi Ilahi dari Allah adalah yang berada dengan sendirinya dari pada mulanya. Bahkan mendahului penciptaan sorga, para malaikat dan manusia. Bapa mengatur kehendak-Nya sesuai dengan Anak, sorga dan segenap ciptaan. Oleh karena itu, tidak ada satu pun di dalam dunia ciptaan ini yang diciptakan melampaui kehendak Bapa. Bapa adalah sang Perencana, sumber dari segala sesuatu.

Anak sebagai Keberadaan Allah pada dasarnya setara dengan Bapa dalam hal kemuliaan dan wibawa. Anak juga memiliki keinginan dan kehendaknya sendiri, tetapi tidak menaruhnya lebih tinggi daripada kehendak Bapa ataupun melampaui (John 6:39-39; John 12:49; John 14:10). Yesus, Anak Allah, menghormati keinginan dan kehendak Bapa dan bertindak sesuai itu (Matthew 26:39, Matthew 26:42; Luke 22:42).

Roh Kudus sebagai Roh Ilahi dari Allah adalah sumber dari segala roh. Sebagai kepribadian, Ia memiliki keinginan dan kehendaknya sendiri, tetapi juga “sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang Kudus” (Romans 8:27) dan tidak pernah melampaui kehendak Bapa dalam pelayanan-Nya. Meskipun Anak menggenapi kehendak Bapa, Ia melakukannya dengan bantuan dan pekerjaan dari Roh Kudus. Dalam segala aspek pelayanan-Nya, Roh Kudus selalu bekerja sesuai dengan kehendak Bapa. Sebagai kesimpulan, Bapa menentukan kehendak-Nya, Anak menggenapinya dan Roh Kudus menjaminnya.

Ayat terkait:
John 6:38-39; John 10:30; John 15:26


Gambar Kehendak Allah

* Memandang kehendak yang telah direncanakan Bapa, digenapi dalam Anak oleh Roh Kudus sebagai satu gambaran

Gambar kehendak Allah mengacu kepada keseluruhan visi kehendak Allah yang dikandung dan direncanakan oleh Allah yang berada dengan sendirinya dari pada mulanya dan telah digenapi oleh Anak melalui Roh Kudus. Gambar kehendak Allah memiliki susunan lipat tiga (three-fold structure) yaitu: Takhta sorgawi sebagai warisan Anak, pemusnahan Iblis dan keselamatan umat manusia. Secara urut disebut: “Prioritas pertama,” “Prioritas kedua,” dan Prioritas ketiga” dalam kehendak Allah.

Prioritas pertama mengacu kepada hubungan antara Bapa dan Anak, yang kedua adalah antara Allah dengan Iblis, dan yang ketiga adalah antara Allah dan umat manusia. Ketiga prioritas ini digenapi di dalam Anak, karena tanpa Anak, tidak ada satu pun dari kehendak Allah yang dapat digenapi (John 6:38; John 10:37; John 14:10). Kehidupan pelayanan resmi Yesus itu sendiri adalah Gambar kehendak Allah. Gambar ini juga berhubungan erat dengan dan terjadi dalam tiga langit ciptaan Allah.

Gambar Kehendal Allah ke 2

Kehendak Allah Ke dua

Pemusnahan Iblis: Prioritas kedua dalam kehendak Allah

* Kehendak Allah untuk pemusnahan Iblis oleh Anak

Prioritas kedua dalam kehendak Allah adalah pemusnahan Iblis seperti dikatakan dalam 1 Yohanes 3:8, “Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.”

Dari pada mulanya, Allah berada sendirian. Ia menunjuk Anak sebagai ahli waris dan menciptakan sorga untuk-Nya, dan juga para malaikat yang akan melayani Dia menyongsong kedatangan-Nya (Hebrews 1:6). Telah direncanakan supaya Anak merendahkan diri-Nya di hadapan Bapa dan masuk ke sorga melalui kematian dan kebangkitan.

Sementara itu, salah satu dari para penghulu malaikat memberontak terhadap malaikat Yehovah (Isaiah 14:12-15); Ezekiel 28:13-18). Malaikat Yehovah adalah malaikat yang melayani sebagai wakil Allah setelah Ia dipercayakan nama Allah, “Yehovah.” Jadi pemberontakan terhadap malaikat Yehovah berarti pemberontakan terhadap Allah dan nama-Nya.

Apabila Lucifer memberontak langsung terhadap Alah sendiri, tentunya ia akan dihakimi secepatnya oleh Allah, api yang menghanguskan (Hebrews 12:29). Tetapi, karena ia memberontak terhadap malaikat Yehovah dan karena ini terjadi sebelum masuknya Anak Allah ke sorga, maka menjadi satu keharusan untuk menempatkan Iblis dalam kurungan sementara, supaya Tuhan sorgawi yang memegang wibawa penghakiman bisa menghakimi dia secara hukum, dalam perjalanan-Nya ke sorga setelah Ia mengalami kematian. Dalam proses ini peperangan antara malaikat yang membuat kekacauan dan para malaikat benar (righteous angels) terjadi di sorga. Sebagai akibatnya, Lucifer, penghulu malaikat yang jatuh, dan antek-anteknya, yang berjumlah sepertiga dari malaikat-malaikat sorgawi, dibuang dari “sorga para malaikat” (langit ketiga) dan dikurung dalam langit kedua (Revelation 12:1-9; Isaiah 14:12-15; Ezekiel 28:13-19; 2 Peter 2:4; Jude 1:6).

Alkitab menyebut langit kedua di mana Satan ditempatkan sebagai “kegelapan,” “hades,” “liang gelap,” dan “alam semesta.” Sampai penghakimannya, Allah memberikan Satan sedikit otoritas terbatas dan membiarkan dia menjadi “kuasa kegelapan” (Colossians 1:13). Kemudian, setelah penciptaan ruang angkasa dari kegelapan, Satan menjadi “penguasa kerajaan angkasa” (Ephesians 2:2) dan menyebabkan Adam berdosa meskipun manusia ini diciptakan untuk mempersiapkan jalan bagi Anak Allah. Karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu (2 Peter 2:19), umatmanusia yang termasuk kepada Adam menjadi diperbudak oleh Iblis. Sejak itu Satan menjadi “Iblis” yang memisahkan Allah dengan manusia dan “Penguasa dunia” (John 12:31; John 16:11) dengan segala otoritasnya.

Terhadap kejatuhan Adam, Allah telah bernubuat bahwa keturunan perempuan akan datang untuk meremukkan kepala Satan (Genesis 3:15), dan akhirnya 2000 tahun, Anak Allah dinyatakan kepada dunia sebagai Firman yang menjadi daging (John 1:14; John 1:18). Kemudian Iblis mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah dan mencobai Dia sebanyak tiga kali (Matthew 4:1-11). Yesus mengalahkan semua pencobaan dari Iblis, tetapi Iblis secara terus menerus mencari jalan untuk menghancurkan-Nya dengan menggunakan kuasa mautnya, dan berakhir dengan menyalibkan Anak Allah yang tidak berdosa.

Meskipun demikian kebangkitan Yesus yang tidak berdosa menghancurkan kuasa maut Iblis (John 10:18; John 16:11). Kebangkitan-Nya membukakan mata dunia bahwa Iblis adalah yang melangar hukum dan dengan kebangkitan-Nya juga, Ia menjatuhkan hukuman kepada Satan yang memberontak terhadap Allah di sorga. Firman Yesus yang diulang-ulang selama kehidupan pelayanan resmi yaitu “Sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar” (John 12:31), pada akhirnya digenapi melalui kematian dan kebangkitan-Nya (John 16:11).

Pada awalnya kedatangan Anak Allah sebagai manusia adalah sebuah proses dari kerendahan hati dan penundukan diri terhadap Bapa, tetapi kejatuhan malaikat di sorga membuat Dia menambahkan penghakiman Iblis kepada kematian-Nya, maka Ia memilih untuk mati di kayu salib.

Kematian bagi Yesus adalah sebuah peristiwa yang disebabkan oleh wibawa-Nya sendiri (John 10:17-18), sedangkan bagi Satan, hal tersebut adalah untuk menghadirkan bukti nyata mengenai pemberontakannya terhadap Allah di sorga. Melalui kebangkitan. Yesus menetapkan hukuman terhadap Satan yang tidak saja memberontak terhadap Allah di sorga, tetapi juga menyalibkan Dia yang benar. Satan sekarang tidak lagi memiliki otoritas dan hanya sedang menunggu penghakiman di neraka.

Ayat terkait:
1 John 3:8; Hebrews 2:14

Gambar Kehendal Allah ke 3

Keselamatan Umat Manusia: Prioritas ketiga dalam kehendak Allah

* Kehendak Allah untuk menganugrahkan kasih karunia bagi keselamatan manusia

Prioritas ketiga dalam kehendak Allah adalah keselamatan manusia (1 John 3:16). “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (John 3:16), “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matthews 20:28). Firman ini dan juga yang lainnya mengenai darah Yesus yang mahal (Hebrews 10:19) bersaksi bahwa Yesus, Anak Allah adalah sang Juruselamat.

Telah direncanakan sebelum penciptaan, waktu Allah berada sendirian, bahwa Yesus akan memasuki sorga setelah Ia menjadi manusia dan mengalami kematian. Sejak dari mulanya manusia diciptakan serupa dengan gambar Allah, yang dimaksudkan sebagai jalan bagi kedatangan Anak Manusia. Tetapi Adam digoda oleh Iblis, malaikat yang jatuh dan memakan buah terlarang dari pohon pengetahuan akan yang baik dan yang jahat, ini menyebabkan kematian bagi rohnya (Genesis 2:17: Genesis 3:1-6). Sebagai akibatnya semua manusia yang termasuk kepada Adam dihukum (menerima kutukan) yaitu dilahirkan dengan keadaan rohani di bawah dosa awal, tidak bisa memiliki hubungan dengan Allah (Ephesians 2:1-2). Semenjak itu Iblis selalu menekan mereka dengan otoritas mautnya (Hebrews 2:14-15) membuat mereka hidup di dalam kutukan dan kesakitan dalam hal roh, pikiran, tubuh dan lingkungan hidup.

Allah memiliki belas kasihan terhadap manusia di mana kematian Anak-Nya telah menjadi kasih karunia bagi mereka (Ephesians 2:5-7). Allah memutuskan untuk menyelamatkan mereka yang telah menjadi musuh-Nya akibat dari dosa mereka dan membiarkan mereka menanti keselamatan secara samar-samar melaui korban darah di bawah hukum Taurat. Pada akhirnya Ia menyelamatkan mereka dengan membuat Yesus, Firman yang menjadi daging, menanggung dosa mereka.

Kehendak Allah yang di dalamnya termasuk warisan Anak yaitu takhta sorgawi, pemusnahan Iblis dan keselamatan umat manusia, telah digenapi melalui kehidupan pelayanan resmi Anak. Dua prioritas pertama dicapai seratus persen oleh kedaulatan Allah karena kedua hal ini tidak ada campur tangan dari kehendak manusia. Bagaimanapun juga, ketika berbicara mengenai keselamatan, kehendak dari pribadi yang bersangkutan adalah faktor yang paling penting. Karena Allah hanya menetapkan untuk menganugerahkan kasih karunia hanya kepada mereka yang oleh kehendaknya sendiri percaya kepada Yesus dan menerima-Nya (Ephesians 2:8; 1 John 5:12). Keselamatan umat manusia akan terus berlangsung sampai dengan kedatangan Yesus yang sekarang tengah mempersiapkan tempat tinggal bagi orang-orang percaya (John 14:2).

Dikarenakan Yesus ingin merendahkan diri di hadapan Allah untuk memasuki sorga, bagaimana cara Ia mati memang tidak menjadi persoalan (Philippians 2:6-7), tetapi Ia memilih mati dengan pencurahan darah dan penderitaan sehingga hal itu bisa menjadi kasih karunia bagi manusia (Matthew 26:28; 1 Peter 1:18-19). Alasan Ia berdoa dengan sungguh-sungguh dalam penuh penderitaan di taman Getsemani sehingga peluh-Nya menjadi seperti tetesan darah adalah karena Ia akan mengalami kematian dan penderitaan yang seharusnya dialami manusia, tetapi Ia menggantikannya (Luke 22:42-44). Pada akhirnya Yesus diserahkan kepada kematian di kayu salib untuk memenuhi kehendak Allah, untuk menyelamatkan manusia (Philippians 2:8). Ia membawa kebangkitan rohaniah bagi roh jiwa, tubuh dan lingkungan hidup manusia dengan jalan Ia yang menjadi miskin, meskipun Ia kaya; dengan dicambuk, ditikam dengan tombak dan dipermalukan, dan oleh pencurahan darah yang mematikan (Matthew 27:27-31, Matthew 27:39; John 19:34; Romans 3:25; Romans 5:9; 2 Corinthians 8:9; Ephesians 1:17; Colossians 1:20; 1 Peter 1:19).

Ayat terkait:
John 3:16; John 12:47; Hebrews 2:15

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites